Home » Tipologi Sosiokultural Petambak Garam Di Indonesia by Yety Rochwulaningsih
Tipologi Sosiokultural Petambak Garam Di Indonesia Yety Rochwulaningsih

Tipologi Sosiokultural Petambak Garam Di Indonesia

Yety Rochwulaningsih

Published June 2nd 2013
ISBN :
ebook
194 pages
Enter the sum

 About the Book 

Program PUGAR yang dilaksanakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI sejak tahun 2011 merupakan upaya konkrit untuk mewujudkan swasembada garam nasional. Program itu dalam implementasinya memberi ‘ruang’ yang cukup kepada kultur lokal danMoreProgram PUGAR yang dilaksanakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI sejak tahun 2011 merupakan upaya konkrit untuk mewujudkan swasembada garam nasional. Program itu dalam implementasinya memberi ‘ruang’ yang cukup kepada kultur lokal dan keragaman sebagai salah satu modal sosial dalam pembangunan, dengan harapan agar masyarakat lokal dapat berpartisipasi sebagai subjek pembangunan secara dinamis dan bertanggungjawab. Oleh karena itu, menyertai program PUGAR dilakukan kajian tipologi sosiokultural komunitas petambak garam di Indonesia yang hasilnya antara lain diterbitkan dalam buku ini.Penelitian dan kajian dilakukan dengan mengambil sample secara proporsive berdasarkan pertimbangan utama adanya karakteristik dan keragaman tipologi petambak garam dari berbagai daerah sentra maupun penyangga produksi garam rakyat nasional. Dengan begitu telah dipilih sejumlah daerah produsen garam di 11 kabupaten di 4 provinsi, yaitu 3 kabupaten di Aceh, 3 kabupaten Bali, 4 kabupaten Nusa Tenggara Barat, 2 kabupaten Sulawesi Selatan. Berikutnya akan dilakukan juga kajian di pulau Jawa dengan mengambil sampel- 1 kabupaten di Jawa Timur, 1 kabupaten Jawa Tengah dan 1 kabupaten di Jawa Barat.. Akan tetapi, untuk penerbitan jilid I ini ditampilkan hasil kajian di Provinsi Aceh dan Bali. Harus diakui bahwa banyaknya daerah yang harus dikunjungi dan diobservasi di satu sisi, dan keterbatasan waktu untuk melakukan kerja lapangan di sisi lain, membuat deskripsi mengenai komunitas petambak garam di daerah-daerah itu memiliki tingkat kedalaman yang tidak sama. Di tengah kelemahan itu, hasil penelitian ini diharapkan tetap dapat memberikan kontribusi bagi upaya pemberdayaan komunitas petambak garam di Indonesia dalam rangka mencapai swasembada garam nasional dan peningkatan kesejahteraan mereka.